Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Maret 15, 2014

Menapaki Jejak Sang Penakluk; Aleksander Agung (356 – 323 BC)

"Menyangkut jumlah buku, pendirian perpustakaan-perpustakaan, dan koleksi di Balai Dewi-Dewi Muse, buat
apa saya ceritakan, karena semua itu ada dalam ingatan orang-orang?" 


Demikian pernyataan Athenaus, sejarahwan abad ketiga ketika melukiskan kemasyhuran dan perkembangan di bidang Pendidikan pada era Ptolemaios II Philadelphos di Alexandria.  



Aktifitas Mahasiswa di Bibliotek Iskandariyah


Seorang Mahasiswi Mesir melakukan penelitian 


                                                                 Penduduk Lokal Alexandria memancing ikan


Pengunjung Benteng Qitbay menghabiskan sore 



















Photographer & Text: Aris Amir 

Rabu, Juni 20, 2012

[Hai IPSC, ini karyaku!] - Catatan Seorang "Newbie"

Bismillahirrahmanirrahim!

         Saya takut kalo tulisan ini terlalu berlebihan disematkan istilah "Karya". Karya atau Adikarya, dalam kacamata saya adalah sebuah Materpiece yang Wow. Bukan tulisan kacangan seperti yang sedang Anda baca sekarang ini, Apalagi untuk dipublikasikan dengan cara seperti ini. Tapi untuk sebuah Kewajiban, memang terkadang kita harus bermuka tembok (ouch!). Bagaimana pun saya harus berterima kasih pada IPSC. Tanpa tugas ini, mungkin "Note" di facebook saya belum terisi. Disini mungkin saya akan lebih banyak berbicara elemen Tehnis Fotografi, mengingat sudah ada beberapa teman yang mengangkat sisi Filosofisnya.

          Saat ini ada dua terobosan baru di tubuh IPSC yang layak diacungi jempol (dikasi Cendol juga boleh :D). Pertama, Diktat pengajaran untuk "Kelas Lanjutan" segera berbahasa Inggris dan yang Kedua, Kelas Komersil. Tak bisa dipungkiri, bahwa sumber asli kekayaan literatur Fotografi yang ditulis para Profesional kebanyakan berasal dari Benua Amerika dan Eropa. Seperti halnya orang Islam yang ingin mendalami Agamanya, tentu lebih afdlal kalau bisa berbahasa Arab. Ide kreatif Kedua tentu tak kalah pentingnya; Kelas Komersil. Founder IPSC, Mas Faiz Dz Roini mengerti betul ke arah mana masa depan Kelas Intensif IPSC akan berlanjut.
          Akhir-akhir ini CEO IPSC banyak berbicara tentang "Kelas Akhir" ini (Komersil: red) dan Re-Generasi IPSC. Bahkan menurut rumor yang beredar (kayak infotaimen selebriti ya? mending "rumor", daripada "gosip" :p), Tahun ini Beliau akan meninggalkan Mesir dan kembali ke Tanah Air. Bagaimana pun, saya sangat bersyukur, IPSC akhirnya memfasilitasi Kelas Komersil bagi anggotanya yang bisa mencapai level ini setelah melewati Kelas Basic, Human Interest & Jurnalistik dan Olah Digital, tentunya. Bagi sebagian teman-teman IPSC, berita gembira ini - mungkin - sekaligus kabar yang menyedihkan. Saya percaya Anda tahu persis apa yang dirasakan Abu Bakar di saat para sahabat yang lain bergembira dengan turunnya Wahyu terakhir... tapi MENGAPA Beliau justru bersedih. (lebai ya? gak ah! tanya aja yang suka banyak nanya sama Shifu ^_^)

(Kembali ke lappp...tottt!!...oOopps!)
        Sejauh ini, Fotografi dalam hidup saya hanya sebatas hobi. Tidak lebih dari itu. Meski saya tahu aktifitas ini bisa bergerak lebih jauh, bahkan tidak menutup kemungkinan bisa berujung Komersil, seperti apa yang dialami banyak fotografer. Kadang saya tertawa membaca kutipan Philippe Halsman, tapi itulah kenyataan:
"I drifted into photography like one drifts into prostitution. First I did it to please myself, then I did it to please my friends, and eventually I did it for the money".
         Entah. Saya sendiri tidak tahu dimana hobi ini akan berujung. Yang pasti, sampai hari ini saya lebih banyak berkutat di seputar "please myself", dan kadang-kadang di "please my friends". Saya lebih suka menghabiskan waktu bereksperimen sendiri, ber-eksposur ria dan tata-menata pixel. Terkadang  - kalau ada waktu - menghadiri kegiatan teman-teman Masisir. Bagaimana pun, saya selalu berharap suatu saat nanti, saya juga bisa menghabiskan waktu di "'please' my God".
          Tidak berlebihan ketika ada seorang Fotografer yang menganggap kameranya sebagai Kekasih atau Pacar. Kamera, bagi saya pribadi, paling tidak bisa diajak berdialog, berdiskusi bahkan bercanda kalo lagi sendiri. (Yang saya maksud "Berdialog" adalah bereksposur; aktifitas dalam mengatur pencahayaan. Butuh satu artikel untuk menjelaskan yg ini. Sedang "Bercanda" adalah bermain dengan lensa Fish-eye dll)
Betul kata Robert Hall:
"Learning to photograph the world upside down and backwards can have interesting implications for your real life. You'll never be boring again. Or bored".
Tidak hanya sampai disitu kata Robert, Fotografi bahkan bisa berpengaruh positif dalam hidup kita. Terbukti selama aktif di dunia ini, "mind-set" saya banyak berubah yang berujung pada gaya hidup saya. Kalo selama ini lebih sering menghabiskan akhir pekan 'bertengger' dari mall satu ke mall yang lain (bukan belanja ya, tapi nyari yang bening2 :matabelo:), sekarang saya lebih suka menyisir "Muiz lidiinillaah" dari Bab Futuh sampai Bab Zuwayla (eeeh...tapi, ternyata banyak yang lebih bening di Muiz lidiinillah! emang kalo rezeki gak kemana ya? hahaha? :D). Ini hanya contoh kecil betapa Fotografi bisa mengubah hidup seseorang.

          Setiap orang punya pandangannya sendiri tentang Fotografi, termasuk saya. Dulu, saya kira Fotografi itu hanya tentang narsis-narsis-an dan foto pengantinan.  Maklum, di kampung satu-satunya tempat bisa melihat kamera "gede" ya di pengantinan. Tapi setelah melangkah lebih jauh, saya surprised dengan apa yang ditawarkan 'dunia' ini. Fotografi bukan lagi - hanya -  tentang narsis-narsis-an atau foto-foto pengantinan. Bukan lagi tentang kamera DSLR full-frame dengan lensanya yang "L" (untuk Canon) itu. Bagi sebagian orang, Fotografi adalah sebuah bentuk perjuangan, Fotografi adalah tentang keadilan, tentang kemanusiaan... bahkan tentang hidup dan mati.
         Dan secara perlahan, mungkin Anda bisa memahami mengapa seorang Kevin Carter hanya bisa menatap kosong dengan mata berkaca ketika ditanyai - di sebuah sesi wawancara - tentang nasib gadis kecil yang ada dalam frame-nya. Dan hanya berselang beberapa hari, Kevin ditemukan tewas bunuh diri di dalam mobilnya. Banyak yang berasumsi, bahwa ia merasa berdosa karna membiarkan si gadis kecil dimakan burung pemakan bangkai. Tahun 1994, foto yang diambil di Sudan itu pun akhirnya didaulat sebagai pemenang "Pulitzer Prize for Feature Photography". (irony? yeah, we call it Photography! Welcome wa sahlan!)

           Sebelum bergabung di IPSC, saya sudah sering berselancar dari forum ke forum di dunia maya. Dan percaya atau tidak, saya menemukan forum-forum Fotografi adalah forum yang isinya komentar-komentar - yang menurut saya - berkualitas dan membangun (Meski terkadang ada juga yang sok pintar. Under-exposure dibilang sengaja, Over-exposure juga dibilang sengaja. Ada juga yg kerjaannya hanya sibuk berdebat Nikon vs Canon, sampai lupa berkarya). Tapi paling tidak, beda jauh lah dengan forum sebelah yang kerjaannya hanya saling mencaci, apalagi kalo yg kontra beda tim kesayangan. Belum lagi yang di forum sebelahnya lagi, isinya hanya sumpah-serapah, menghujat dan saling mengkafirkan (gak pernah baca surah "Al-Kafirun" kalo lg sholat kale ya? favorit sy tuh. Pendek soalnya :D). Tapi dari lawatan di forum-forum ini lah, Rasa dan Seni Fotografi saya perlahan tumbuh.
          Saya percaya bahwa setiap orang memiliki Rasa Seni Fotografi. Sebagian hanya belum bisa menjelaskannya. Pernahkah Anda melihat teman Anda sebelum mengganti foto profil ato cover Facebook, ia meng-crop-nya terlebih dahulu? Sebenarnya teman Anda sedang melakukan "Composing" (meminjam istilah Ken Rockwell); mencari letak posisi yang tepat untuk objek utamanya. Ini adalah salah satu tehnik dasar ilmu Fotografi. (Nah, lain kali coba tanya teman nt "Kenapa di-crop seperti itu?" saya yakin jawabannya  pasti, "Kayaknya kalo begini lebih bagus deh!"...owww man, please! that's not my point hehe)
          Semakin belajar Fotografi, semakin "fleksibel" cara kita ketika menilai sebuah foto. Dalam satu frame, terkadang banyak elemen yang ingin disampaikan empunya. Mulai dari aspek Tehnis; termasuk komposisi, grafis, fokus, warna, gestur dll, sampai aspek Visual; termasuk momen, kejadian atau peristiwa dll. Dan satu hal yang saya temukan, tidak banyak Fotografer yang bisa memanfaatkan semua unsur ini secara bersamaan, bahkan Profesional sekali pun. Saya bisa menjelaskan ini secara ilmiah (tapi bukan sekarang)

          Bagi teman-teman yang sedang membaca tulisan ini dan berniat bergabung di IPSC, Saya jamin setelah ikut kelas Basic, Anda akan menemukan diri Anda tidak lagi cepat 'kaget' ketika orang lain berdecak kagum melihat sebuah foto, karna mungkin menurut Anda itu biasa-biasa saja. Atau sebaliknya, ketika orang lain menilai sebuah foto tak ada yang istimewa, tapi bagi Anda foto tersebut merupakan sebuah karya yang luar biasa dan Anda pun siap berlama-lama menghabiskan waktu, menikmati setiap detil pixel dan memaknai pesannya.
         Belum lagi ketika Anda sedang berada di "TKP", bersiaplah untuk jadi 'pusat perhatian' karna Anda terkadang tidak menyadari bagaimana "gaya" dan "posisi" Anda sebenarnya di saat sedang sibuk memotret (sumpah, sering saya alami hehe). Tapi percaya, Anda akan perlahan memahami ini ketika belajar ilmu "Angle". Biarkan saja mereka bergumam. Sekali lagi, ini tentang "The Art of Seeing". (blom tau dia hehe)
          Jadi sebelum belajar Fotografi, bersiaplah untuk BERBEDA. Karna Anda akan BERBEDA. Jangan takut BERBEDA. Banyak yang menertawai karna saya BERBEDA. Tapi saya justru menertawai mereka karna mereka semua SAMA (:D).

          Now, let's talk about one of my favourite frame/shoot (I mean, yang terbaik dari yang terjelek haha). Foto ini saya jepret jam satu siang (01:14 tepatnya) 14 Juni 2012 tepat di bawah gerbang "Bab el-Futuh", Jalan Mu'izz lidiinillah - Kairo. Dalam foto ini saya berusaha memasukkan beberapa unsur yang disebutkan Ken Rockwell dalam artikel-nya yang berjudul "The Secret: What Makes a Great Photo". Foto kedua adalah Foto Ken Rockwell yang diambil di Ruin, San Diego, 28 July 1996:

Bab el-Futuh, Kairo, 14 Juni 2012 (ISO 800, Bukaan F/9, Kecepatan 1/60 & gak pake Tripod)



Ruin, San Diego, 28 July 1996


1. Eye Path (Mata orang yang melintas/pejalan kaki)

Mata Manusia sangat cepat berpaling ke warna-warna kontras dan "nendang". Di foto saya, warna hijau kubah adalah warna yang paling kuat. Dan saya memanfaatkan itu sebagai "Eye Path". Sebelum penikmat foto melangkah lebih jauh ke detail foto, "Eye Path" inilah yang paling sering menggiring dan "memaksa" mereka mampir di foto Anda.

2. Composition (Komposisi)
Salah satu kelemahan foto saya adalah dari segi ketajaman. Hal ini tak lepas dari kesalahan minor ketika sedang berkomposisi di lapangan. Selain tidak memakai Tripod, saya juga memasukkan terlalu banyak "space" yang tidak penting dalam frame yang berujung pada "extreme-cropping". Meng-cropping terlalu banyak space berdampak pada berkurangnya pixel, dan kurangnya pixel, automaticly berakhir pada flatnya gambar dan hilangnya detail.
(But I had my own way to solve this problem. Mo tau? Ikut kelas IPSC! hehe)

3. Distraction (menghilangkan gangguan)
Fotografi itu seperti menulis; "Semakin sedikit kata yang digunakan, semakin bagus sebuah tulisan". Di sebelah kiri foto saya sebenarnya ada 2/3 bagian pintu yang masuk, tapi saya hilangkan. Karna menurut saya ini hanya mengganggu frame utama.

4. Gesture (Gestur)
Gestur biasanya merujuk ke gerakan tangan dan ekspresi muka. Di Kelas HI & Jurnalistik IPSC kita banyak belajar tentang ini. Di materi ini pula lah tidak sedikit "pertumpahan darah" yang terjadi (hahaha). Ekspresi dua turis dalam foto ini sangat bercerita. Tanpa saya beri judul, saya yakin penikmat foto bisa memahami isi cerita dalam frame.

5. Never Imitate (jangan meniru)
100 % ide pada foto ini muncul dari imajinasi saya sendiri. (Sebenarnya saya diuntungkan momen ini, niatnya cuma ingin jepret kuba hijau, eeeh...tiba-tiba ada turis yg "nangkring" :D). Jadilah dirimu sendiri, karna tidak ada orang yang bisa menjadi kamu selain kamu sendiri!

6. Color (Warna)
Bagi orang yang mengerti filosofi warna, mereka akan dengan mudah berkomunikasi - hanya - lewat warna. Karna pada hakekatnya, warna itu bercerita. Disini letak perbedaan mendasar foto saya dengan foto Ken Rockwell. (Tapi jangan sekali-kali dibandingkan ya! ini adalah penghinaan...hahaha). Ken ingin menunjukkan sebuah merah yang "nendang', sedang saya ingin menunjukkan sebuah keteduhan lewat warna hijau dan cyan (saudaranya biru).

"Warm colors (red, orange and yellow) get us riled up. Cool colors (greens, blues and violets) are peaceful" - Ken Rockwell.

...dan masih banyak lagi tehnik penting lain pada artikel tersebut yang terlalu panjang untuk dipaparkan satu per satu (tapi gak usah nanya lagi "trus...gimana kalo mo tau poin2 yg laen"? ya di googling aja, gitu aja kok repot!)

Fotografi adalah sebuah perjalanan. Ada saat-saat dimana kita jatuh cinta pada sisi Tehnisnya. Ada saat dimana kita jatuh hati pada unsur Filosofisnya, Dan akhir-akhir ini saya lebih banyak tertarik pada objek-objek berwarna (colorful: red) (dan mari sejenak lupakan Ansel Adam hehe).

Dimana pun hati Anda tertambat dan apapun aliran Fotografi Anda (minumnya...tetap air krang), Just jepret...jepret and jepret! Salam Fotografi! :)




Aris Amir  (Santri Kelas HI & Jurnalistik yang tugasnya tidak lulus2 :p)
Kairo, 18 Juni 2012

Catatan:

- Sebagai bagian dari tugas IPSC, kami menerima calon siswa Akademi IPSC yang mempunyai kemauan kuat dan komitmen untuk mengikuti Kelas Intensif Fotografi Dasar. Gratis untuk siapa saja (kuota terbatas) dengan peraturan yang ditetapkan Akademi IPSC. Pelaksanaannya insya Allah dimulai pada liburan musim panas tahun ini. Keterangan lebih lanjut bisa menghubungi nomor +201008549711 atau pesan pribadi melalui FB ini: https://www.facebook.com/ipsc.egypt


-  Simak juga Cerita Calon Pengajar IPSC yang lain dalam tema "Hai, IPSC! Ini Karyaku!" :
•Faisal Zulkarnaen
Baca Ceritanya disini: http://www.facebook.com/notes/faisal-zulkarnaen/hai-ipsc-ini-karyaku-fotografi-bukan-sekedar-menangkap-cahaya/10151183841872564
•Kang Ayon
Baca Ceritanya disini: http://www.facebook.com/notes/kang-ayon/hai-ipsc-ini-karyaku-cintaku-kesangkut-di-fotografi/396681517044492
•Wahyu Mas Saputra:
Baca Ceritanya disini: http://www.facebook.com/notes/wahyu-mas-saputra/hai-ipsc-ini-karyaku-kelas-intensif-ipsc-tidak-melulu-soal-fotografi/426999290673470

Untuk cerita-cerita lainnya akan segera diupdate. Karena setiap calon pengajar akan membuat satu cerita.

Jumat, Maret 30, 2012

Apes

Kalo ada "Top Ten" hari yang menjengkelkan, mungkin hari ini masuk sepuluh besar. Pukul dua lewat empat puluh tiga menit (02:43) Jum'at dini hari, 30 Maret 2012, tepatnya. Hasil "save-an" tulisan-tulisan yang selama bertahun-tahun saya kumpulkan dari berbagai sumber di internet harus "terdelete" gara-gara virus Trojan. Ini bukan kali pertama saya bermasalah dengan makhluk yang satu ini. Tahun 2010 juga sempat hampir menghabiskan seluruh isi hardisk eksternal saya. Aishhh...

Dan entah kenapa, ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah Blog lama kembali saya aktifkan. Mungkin Tuhan -hanya- ingin mempertegas keputusan saya ini; mengaktifkan Blog. Kebiasaan mengunduh  bacaan-bacaan dari internet memang lebih banyak saya nikmati sendiri secara "off-line". Lain dengan tulisan-tulisan yang secara "on-line" dishare di blog. Tidak hanya dinikmati sendiri, tapi juga bisa berbagi dengan orang lain.

Rezki (baca: Ilmu) memang lebih terasa ketika dinikmati bersama. Inilah salah satu substansi dalil "Balliguu annii walau ayat!".



Kamis, Maret 29, 2012

Talkhisan Kitab "طرق تخريج حديث رسول الله صلي اله عليه وسلم"

Kitab ini dikarang oleh Prof. DR. Muhammad Abdul Muhdi bin Abdul Qadir bin Abdul Hadi dan diajarkan langsung oleh Beliau untuk tingkat empat fakultas Ushuluddin jurusan Hadits. Dulunya dinamai "محاضرات في التخريج".

تعريف التخريج:  
لغة :  مادة(ج ر ج ) تدور في معناها علي الظهور و البروز
قيل: الإستخراج بمعني الإستنباط
إصطلاحا:
- إبراد المؤلف أحاديث كتاب ما بأسانيد لنفسه, يلتقي مع مؤلف الأصل في شيخه أو من فوقه.
-  عزو الأحاديث إلي من أخرجها من أئمة الحديث في كتابه مع الحكم عليها

الغرض في التخريج
- معرفة مصدر الحديث و حاله من حيث القبول والرد

فوائد التخريج:
1. معرفة مصدر أو مصادر الحديث
2. جمع أكبر عدد من أساند الحديث
3. معرفة حال الإسناد بتتبع الطرق
4. معرفة حال الحديث  بناء علي كثير من الطرق
5. إرتقاء الحديث بكثرة طرقه

نماذج تتضح بها فوائد التخريج
الأول:






















Rabu, Maret 28, 2012

(Tugas) Kesan dan Pesan Kelas Dasar IPSC 2012

Ijinkan saya mengutip perkataan Goenawan Moehammad yang bunyinya kurang lebih seperti ini:
“Bahasa itu ‘lemah’. Ia sering kali tidak jatuh persis dengan apa yang ada di benak kita”
 
Kalo kolumnis sekelas GM saja kadang tak mampu menceritakan apa yang ada di benaknya, bagaimana dengan kita yang hanya bermodal bahasa pas-pasan. Ada cerita di setiap sisi momen yang kami lewati. Ada rasa yang tak cukup hanya diungkapkan lewat kosakata. Karna Ia, punya ceritanya sendiri.  Tapi saya akan berusaha sebisa mungkin… :D
 
Kalo di kelas sering kita mendengarkan kalimat khas ini “Disini tidak menerima setoran alasan!”, kali ini mungkin kita harus membuangnya jauh-jauh, karna sepanjang tulisan ini, hanya akan berisi rangkuman alasan, alasan….dan alasan hehe
 
Baiklah, Mari kita mulai:
 
Kamis 26 Januari 2012 Pukul 03:00 PM. Satu persatu roman-roman ‘aneh’ itu bermunculan. Wajah asing penuh tanya, persis rautku ketika itu. Ternyata mereka adalah calon teman sependirataanku di hari mendatang. Dengan sangat bersahaja, Mas Faiz membuka pidato atau apalah istilahnya. Sederhana. Tidak menggebu-gebu,  tapi mampu memacu adrenalin dan menggelitik rasa penasaran para peserta untuk mengetahui apa – sebenarnya – fotografi itu. Meski terkesan ‘briefing’ , tapi ‘kultum’ founder IPSC ini mampu memberi gambaran singkat tentang dunia fotografi, arah dan mau dibaaawa kemana…
 
27 Januari 2012, bukan landscape, bukan arsitektur…apalagi model :p. Yang disuruh jepret cuma barisan baterai yang membosankan. Tapi, paling tidak gerakan motret ‘freestyle’ yang lucu dari teman-teman perlahan menutupi rasa itu. Mulai dari yang tengkurap sampai bokong di atas :D 
 
28 Januari 2012, memasuki kelas ke-dua. Bermodal 5 jam teori dasar di kelas pertama, berangkatlah para peserta ‘dikawal’ dua mentor menuju Masjid Ibn Thulun. Masjid favorit para sesepuh IPSC. 
Tak ada kendala dalam perjalanan, mengingat mayoritas peserta sudah pernah melawat di tempat yang sama. Dibuka dengan ‘briefing’ sekitar 30 menit, lalu petualangan pun dimulai. Terlihat para peserta berburu angle dan komposisi. Mulai dari yang menyisir perspektif pilar-pilar interior sampai yang ada yang kerjanya hanya ‘mengukur’ grafik dan pola-pola ornamen. Keindahan Masjid yang dibangun tahun 876 ini memang tak pernah luput dari sorotan para pelancong. Tak ayal, kawasan ini seringkali dipadati pengunjung, baik turis mancanegara maupun domestik.  
 
29 Januari 2012 menandai hari ‘Post prossecing’ pertama. Agenda kritik foto hasil jepretan hari sebelumnya. Di hari itu, kami kembali bernostalgia dengan Photosop. ‘Tool’ favorit para pecinta “kamar gelap” (maaf kalo istilahnya salah, Shifu!). Ilmu dasar photosop yang pernah saya pelajari tiga tahun silam, perlahan kembali. Mas Faiz memulai kelas. Satu per satu foto dibedah. Detil. Bahkan sejak belajar fotografi, saya belum pernah melihat kritik foto sedetil itu. Satu per satu istilah fotografi bermunculan. Mulai dari komposisi, angle sampai tonal. Melongok. Namun bukan hanya saya, peserta yang lain pun demikian. Dari sekian banyak kritikan yang dialamatkan Mentor ke peserta, bagian titik fokus lah yang paling menyita perhatian saya. Selain Ilmu segitiga emas – ISO, Diafragma dan kecepatan-, kesalahan paling fatal dari foto-foto saya adalah bagaimana cara menjatuhkan titik fokus. Ketika saya menanyakan hal ini kepada mentor, “Kuncinya ada di foto baterai!”, jawab Mas Faiz datar. Dan, saya pun tersadar bahwa titik tolak dari ilmu titik fokus itu berangkat dari foto baterai yang membosankan 3 hari lalu itu. Ouch!
 
Kelas ini tidak hanya mengajarkan fotografi, tapi juga Psikologi, Budaya dan Manajemen waktu.  Masih BANYAK SEKALI jejak kisah yang belum sempat kami tuangkan disini. Belum termasuk antrian ‘hammam’ di rumah karna buru-buru masuk kelas, belum termasuk gonta-ganti laptop sampai empat kali. Bangunin teman jam tujuh pagi buat minjem laptop. Semua peristiwa ini mengajarkan kami kesabaran. Pelajaran – yang menurut saya – paling penting dan paling susah diantara semua. Bahkan ketika menulis ini, saya masih bertanya-tanya entah sampai kapan saya bisa bertahan di kelas ini.
Berharap suatu saat ada kesempatan lain dan kami bisa berbagi cerita lebih banyak lagi.
 
Pesan:
Buat Kelas HI IPSC 2012 Keberhasilan itu kayak orang hamil. Semua hanya memeberi selamat tapi mereka tidak tahu berapa kali ... baru bisa 'jadi'. Jangan menyerah kata Kerispatih! :D
 
NB:
Baru sadar ternyata disuruh nulis 2500 karakter. Saya hampir nulis 2500 kata (word). Pantesan dari malam sampai pagi tulisan ini tidak selesai-selesai. Maaf buat Mas editor kalo tulisannya berantakan :D!

Selasa, Maret 27, 2012

Tulisan Pendek

Rezki itu kayak Wikipedia; saling berkesinambungan.
Pikirian kayak 1000d; susah fokus

Minggu, Maret 25, 2012

Diafragma


Hidup itu kayak ngatur "aperture" di "exposure", biasanya kalo ingin tahu banyak bidang, harus ada kompensasi tidak sedalam orang yang menekuni satu bidang.

Hidup adalah pilihan, apakah kita pecinta "Landscape" yang butuh "depth of field" luas ato kah "Macro" yang justru sebaliknya, tetap jangan lupa yang terakhir; mencet "SHUTTER-BUTTON".

Semua hanya akan berada di angan2 jika kita tidak melakukan sesuatu.

Bosan

Salah satu hal yang paling indah dalam hidup ini adalah rasa bosan. Ia tidak hanya  merusak orang-orang berhasil, tapi juga memberhasilkan orang-orang rusak. Perhatikan orang rusak ketika mereka mulai bosan dengan kehidupan rusaknya.